sudut pandang vina

  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
SALAH SATU dambaan dari masa quarter life-crisis adalah memiliki privilege. Dengan privilege, segala rintangan akan mudah dihadapi. Namun, apakah harus punya privilege dulu baru bisa mulai mencapai impian? Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang enggak memiliki privilege? Rasa-rasanya enggak make sense kalau kita ngerasa susah dan orang lain lebih dimudahkan karena punya privilege. 

Oke katakanlah aku sendiri. Aku punya privilege, sehingga bisa memaksimalkan potensi menulis dengan fasilitas yang bisa kugunakan. Aku sadar, apa yang aku dapatkan saat ini merupakan sebuah privilege yang harus dimanfaatkan dengan baik. Dan, aku punya cara sendiri dalam memanfaatkannya. Kadang aku suka kesal dengan orang yang mengadu nasib denganku.

Mengatakan bahwa nasibku lebih baik daripada dia. Oke, ini memang jadi salah satu hal yang membuatku bersyukur terhadap keadaanku saat ini. Lantas, bukan berarti aku harus memanfaatkan nasibku (re: privilege) sesuai dengan keinginan dia yang enggak memiliki nasib sama denganku. 

Aku setuju bahwa privilege menjadi salah satu ‘jalan ninja’ untuk menjadi seperti yang kumau. Namun, ninja juga butuh ketangkasan, kecepatan, dan langkah strategis, ‘kan? Punya privilege bukan berarti jalan mulus. Privilege itu tanggung jawab dan bukan hal yang mudah untuk mengemban sebuah tanggung jawab.

Enggak semua orang menyadari kalau ‘kemudahan’ yang dia miliki adalah sebuah privilege. Dan, enggak semua orang sadar kalau privilege yang dimiliki itu adalah sebuah tanggung jawab. Pada akhirnya, ketika kita punya fasilitas, tetapi enggak dimanfaatkan dengan baik, akan sia-sia juga potensi dan peluang yang kita miliki. Salah satu cara mensyukuri adanya privilege adalah dengan bertanggung jawab. 

Enggak punya privilege bukan berarti enggak bisa punya karier seperti yang diinginkan. Semua tergantung pada pola pikir kamu. Harus realistis. Ketika menyadari kamu enggak punya privilege, dan privilege itu ternyata dipunyai teman kamu. Jangan kamu banding-bandingkan. Kamu harus cari cara gimana caranya meraih karier, meskipun tanpa privilege. Kalau pola pikirmu masih mengklaim privilege adalah segalanya, berarti kamu sendiri yang menghambat diri mencapai impian kamu.

Aku tau, aku paham, enggak mudah untuk menghadapi quarter life-crisis. Namun, semuanya akan butuh tantangan. Dan, itu termasuk sebuah proses, ‘kan? Apalah keberhasilan tanpa proses? 


DALAM kehidupan bermasyarakat, kita enggak bisa tuh bertindak sesuka hati. Pada dasarnya, manusia sebagai makhluk sosial adalah sosok yang selalu membutuhkan orang lain. Bersosialisasi di lingkup masyarakat pun ada tata krama, etika yang sebaiknya diikuti dan dipahami oleh semua orang. Etika yang diterapkan pada lingkungan masyarakat luas atau di tempat umum disebut etiket. 

Menerapkan Etiket dalam Kehidupan Sehari-Hari, Hal Kecil yang Sering Diabaikan

Mungkin selama ini kita hanya mengetahui istilah etika. Kita udah sering mendengar etika, mempelajarinya mulai dari sekolah dasar. Etika mengajarkan tentang nilai dan moralitas dalam diri terhadap orang lain. Pun, pada realitasnya masih banyak orang yang belum bisa menerapkan etika dengan baik. Bagaimana dengan etiket?

Kalau etika berkaitan dengan moral dan nilai dalam diri kita terhadap orang lain. Etiket adalah sebuah tindakan atau perilaku yang secara mutlak harus diterapkan oleh semua orang, misalnya di masyarakat, daerah, bahkan negara tertentu. Artinya, etiket ini merupakan acuan dan aturan untuk kita dalam bersikap dan menyesuaikan dengan tempatnya.

Sebab, setiap daerah punya kebiasaan yang berbeda, begitu juga dengan negara. Saat pergi ke luar kota maupun ke luar negeri, ada baiknya melakukan riset terkait apa-apa aja nih hal yang boleh dan enggak boleh dilakukan di sana. Sehingga, sikap kita tetap sopan dan santun di daerah orang. Bukan hanya itu, paling dekat deh, di sekitar rumah kita, di tempat umum, pun ada etiket yang perlu dipahami dan diterapkan.

Contoh etika seperti berkata jujur, enggak mengambil hak milik orang lain, mendengarkan seseorang bicara dengan kita, menjaga cara bicara, dll. Jadi, lebih ke tergantung bagaimana diri sendiri bersikap dengan orang lain. Nah, kalau yang etiket bagaimana?

1. Membiarkan Orang Lain Keluar Lebih Dulu

Menerapkan etiket dalam kehidupan sehari-hari itu harus dimulai dari hal kecil. Namun, hal kecil ini sering kali diabaikan oleh banyak orang. Hal sesederhana keluar masuk pintu ataupun lift pun kadang masih belum bisa dimengerti. Berikut beberapa contohnya. 

Pintu

Saat akan masuk melalui pintu, pria harus menahan pintu apabila ada orang lain di belakang membawa banyak barang untuk mempersilakan masuk. Utamakan pria masuk lebih dulu baru disusul wanita.

Lift

Saat menunggu untuk masuk lift, kita harus menunggu di samping pintu lift. Bukan menunggu persis di depan lift karena akan menghalangi orang untuk keluar. Kita harus memastikan orang di dalam lift untuk keluar lebih dulu baru kita masuk. Saat di dalam lift pastika posisi tubuh menghadap ke depan bukan membelakangi pintu lift. Letakan tas di samping atau di depan. 

Transportasi Umum

Begitu pula ketika menggunakan transportasi umum. Pastikan kita tunggu orang yang di dalam keluar lebih dulu, baru kita masuk. Dalam transportasi umum memiliki penumpang prioritas seperti lansia, ibu hamil, dan seorang ibu yang membawa anak. Pastikan jaga adab seperti enggak merokok, menjaga cara duduk yang rapi dan rapat, menjaga suara saat menelepon. 

2. Cara Duduk, Berdiri, dan Berjalan

Menerapkan etiket dalam kehidupan sehari-hari juga perlu diperhatikan dari gestur kita. Misal dengan cara kita duduk, berdiri, hingga berjalan.

Duduk

Saat duduk pastikan posisi kaki enggak terlalu lebar dan tetap menutup rapat, apa lagi untuk perempuan. Enggak menyilang atau menopang kaki. Letakkan tangan di paha. Letakkan juga tas di sebelah kiri. 

Berdiri

Saat berdiri, seorang pria kakinya sejajar dengan bahu, tegak tetapi tetap santai. Perempuan sedikit lebih rapat posisi kakinya. Berdiri, jangan membusung dada, jangan bertolak pinggang, dan menghalangi orang lain.Saat berjabat tangan dengan orang lain, sebaiknya tubuh kita agak sedikit condong dan memberikan senyuman. Perhatikan lawan bicara saat bicara, tubuh dan wajah kita harus berhadapan—kecuali dalam keadaan tertentu.

Berjalan

Jika berjalan jangan melangkahkan kaki dengan lebar pinggul, tetap santai dan perhatikan sekitar. Wanita dan orang tua sebaiknya berjalan di sebelah kanan. Kalau barang kuta terjatuh, berjalanlah ke samping barang tersebut dan ambil dengan cara berjongkok. 

3. Budaya Mengantre, Jangan Menerobos

Salah satu hal yang sering terjadi di masyarakat adalah budaya mengantre yang masih amat memprihatinkan. Di ATM, di toko, di swalayan, tempat makan. Nyatanya banyak dari kita masih abai dan perlu perhatian lebih untuk mengerjakan etiket dalam kehidupan sehari-hari yaitu budaya mengantre.

Mulai biasakan diri untuk mengantre, jangan menerobos orang di depan yang udah sejak tadi menunggu. Jangan pula membiarkan teman kita untuk menempati posisi kita saat udah selesai Mengantre. Hargai orang di belakang kita. Saat mengantre, kita pun jangan pula menitip dengan orang depan. Sebagai pemilik toko/usaha pun harus bisa menertibkan barisan antre dan bersikap adil.

Pada saat di lampu merah, selain mematuhi aturan rambu-rambu lalu lintas. Saat lampu hijau baru nyala satu detik, jangan langsung mengklakson. Biarkan kendaraan paling depan bersiap untuk jalan. Belajar harus sabar dan menjaga ketertiban di jalan.

4. Menghormati Orang yang Lebih Tua dan Menghargai Orang Lain

Menghormati orang yang lebih tua tentu menjadi kewajiban bersama-sama untuk menerapkan etiket dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya sempat disinggung soal sikap dan tindakan kita terhadap orang tua saat di tempat umum. Selain itu, ketika berjalan melalui orang yang lebih tua, sebaiknya badan kita sedikit membungkukkan dan mengucapkan permisi. Membantu orang lebih tua yang kesusahan di jalan, misal ingin menyebrang, atau akan membawa banyak barang masuk ke dalam transportasi umum.

Selain itu, Kita juga harus bisa menghargai orang lain. Contohnya, saat di pusat perbelanjaan, ada yang sedang menyapu atau mengepel, meskipun itu udah tugas dia, kita tetap harus mengucapkan permisi dan maaf. Saat membayar transportasi umum pun kita mesti mengucapkan terima kasih. Kata-kata ajaib ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat menunjukkan sesuatu atau orang lain, jangan menggunakan telunjuk. Bisa dengan telapak tangan yang terbuka atau jempol.

5. Menjaga Kebersihan Lingkungan

Menerapkan etiket dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya berlaku dengan orang lain, melainkan juga dengan alam semesta. Membuang sampah pada tempatnya itu penting banget. Kalau kita enggak mendapati tempat sampah, sebaiknya kita simpan lebih dulu. Begitu pula saat sedang di tempat umum baik di transportasi, swalayan, ataupun tempat umum, pastikan enggak membuang sampah di sana, simpan dan hawa sampai menemukan tempat sampah.

Pun, kita harus tetap menjaga tumbuhan yang ada di sekitar. Jangan asal memetik daun meski hanya satu helai. Jangan mengambil bunga atau buah sembarangan yang bukan milik kita. Tetap jaga adab dan etika kita.

NAH, itu dia cara menerapkan etiket dalam kehidupan sehari-hari yang harus dipahami oleh orang lain. Sebetulnya masih banyak sekali etiket yang harus kita ketahui dan terapkan. Etiket bukanlah aturan yang memberatkan ran membebani kita dalam bersosialisasi. Justru, dengan adanya etiket akan membantu kita dan menjaga keharmonisan dalam masyarakat umum.

—

Referensi

https://id.scribd.com/document/495772870/ETIKET-DI-TEMPAT-UMUM-DAN-BERKENDARA-KEL-12

https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-etiket/

https://indonesiabaik.id/infografis/etika-naik-transportasi-umum

https://etikaprofesiti15.blogspot.com/?m=1

https://youtu.be/HoYZBoxPunE?si=SMBL1aPwpm6Pbcj6

https://youtu.be/9fZCnbtj8Lg?si=L7HcXMb_rkZh_Krz
JUJUR AJA, kadang suka sebel dan gemes sama teman yang dikit-dikit malu, apa-apa malu. Ya, sebenarnya manusiawi sih, ya. Aku pun punya rasa malu. Akan tetapi, kalau rasa malu jadi menghambat kehidupan kita yang hsrusnya damai ini, ‘kan, bikin pengin getok kepalanya. Kamu punya enggak sih teman yang nyebelin kayak begini? Soalnya, aku punya, nih, teman model begini.

Pernah nih suatu hari, kami lagi jalan bareng di pusat perbelanjaan. Seperti biasa, kita debat soal beli jajan. Jadi, temanku ini mau beli tahu isi dengan harga dua ribu. Dan, karena dia enggak mau beli banyak—takut kenyang katanya—dia cuma beli dua aja alias empat ribu rupiah. Permasalahannya, dia malu karena cuma beli dua, sementara saat itu aku udah lapar mau makan pisang goreng. Setelah perdebatan pelik, akhirnya aku deh yang berperan membeli tahu isi untuk dia.

Maksudku adalah, ya, kenapa harus malu kalo pengin dan keinginan itu bisa tercapai? Ya kali keinginan yang harusnya mudah dicapai, jadi enggak tercapai hanya karena rasa malu? Nah, rasa malu kayak begini nih yang bikin kedamaian dan kesejahteraan hidup kita, iya enggak sihhh? Apa lagi kalau udah urusan perut, enggak ada rasa malu! Xixi. 

Kiat Mengatasi Rasa Malu demi Kesejahteraan Hidup!

ketika merasa malu
Aku yakin bahwa rasa malu yang dialami temanku bukan hanya terjadi pada dirinya, melainkan juga pada orang lain. Oleh karena itu, pada artikel ini aku akan membahas kiat mengatasi rasa malu supaya hidup—paling enggak—lebih sejahtera dan mudah. Ya, malah dipikir-pikir, kadang rasa malu ini bikin hidup jadi lebih sulit. Ya, contohnya aja tadi, punya keinginan yang seharusnya bisa dimiliki, tetapi malah tertahan karena malu. Akhirnya, hanya memendam keinginan itu dalam-dalam. 

Seperti yang udah kukatakan bahwa rasa malu itu wajar dan terjadi pada siapa aja. Dan, kita pun perlu memiliki rasa malu untuk punya antisipasi dan batasan perilaku. Jadi, dengan adanya rasa malu kita seenggaknya tau apa aja hal-hal yang menyalahi norma dan moral. Namun, kadang-kadang sesuatu yang berlebihan itu juga enggak baik, ‘kan? Artinya, kita harus bisa manajemen atau penempatan rasa malu yang pas.

Rasa malu itu terdiri dari tiga jenis
  • Rasa malu karena menyalahi norma dan moral
  • Rasa malu yang bukan didasari kesalahan norma dan moral
  • Rasa malu karena kurangnya rasa percaya diri 

Dilansir dari Diversus Health, menurut para ahli, alasan utama seseorang merasa malu karena mereka takut ditolak atau dikritik terhadap sesuatu yang ingin mereka miliki. Disebutkan juga bahwa rasa malu dapat membuat seseorang jadi enggak percaya diri dan juga berdampak pada kesehatan mental.

Meskipun memang ada rasa malu yang hadir karena faktor genetik. Akan tetapi, bukan berarti kita enggak bisa melawannya, ‘kan? Berikut ini kiat mengatasi rasa malu!

Kiat mengatasi rasa malu

1. Kenali Pemicu Rasa Malu

Memang ini bukan hal mudah, tetapi kita perlu melakukan evaluasi terhadap pengalaman memalukan yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini bertujuan supaya kita bisa mengenal apa-apa aja sih yang bikin kita merasa malu? Misal, pernah terpeleset di depan umum atau salah manggil orang. Itu berarti ke depannya kita harus lebih fokus dan jangan ceroboh.

Selain itu, perhatikan juga esensi dan tujuan perilaku kita. Apakah hal yang kita lakukan itu memalukan? Apakah tujuan dari perilaku tersebut memalukan? Misal, ada tugas disuruh menyanyi depan kelas. Ya, enggak perlu malu, toh bukan kamy aja yang bakal maju, ‘kan?

2. Menerima/Validasi Rasa Malu

Kita sama-sama memahami, setelah melakukan kesalahan dan merasa malu, kadang rasa malu membekas lama sekali. Namun, itu enggak apa-apa, semua orang pernah melakukan kesalahan. Tugas kita selanjutnya hanya perlu memvalidasi rasa malu tersebut.

Validasi di sini tujuannya bukan untuk membuat kita makin merasa malu dan jadi enggak percaya diri. Jadikan validasi di sini sebagai bentuk antisipasi ke depannya. Rasa malu itu wajar kok, tetapi kalau enggak ada rasa malu setelah melakukan masalahan, ini yang perlu dipertanyakan dan hindari. 

3. Jangan Takut Ditolak/Dikritik

Kiat mengatasi rasa malu selanjutnya setelah kita validasi rasa malu, kita juga harus bisa berlapang dada untuk menerima penolakan dan kritikan. Misalnya, guru meminta para murid untuk menjawab sebuah persoalan. Sebetulnya, kita tau jawabannya, tetapi kita malu dan jadi ragu sama jawaban sendiri. Kalo jawaban salah gimana, ya? Nanti dimarahin sama guru! Malu, ah!

Dan, ternyata jawaban dalam pikiran itu benar, tetapi dijawab oleh murid lain. Pasti rasanya menyesal, ‘kan? Jadi, kita harus belajar untuk berani. Kalau salah pun, kita akan mendapatkan pelajaran kok. Dan, guru pun enggak akan memarahi. Kalau ada orang yang mengejek dan underestimate kita karena salah, itu bukan salah kita, melainkan mereka yang enggak tau cara menghargai.

4. Positive Self Talk

Enggak ada salahnya kita menerapkan kiat mengatasi rasa malu dengan self talk positif. Rasa malu cenderung membuat kita jadi enggak percaya diri. Kita perlu punya waktu dan ruang untuk berbicara hal-hal positif terhadap diri kita sendiri. Ini akan bermanfaat bagi pengembangan diri kita.

Pahami bahwa kita punya kelebihan dan kebaikan. Katakan bahwa kita punya kelebihan itu. Katakan bahwa rasa malu itu wajar dan melakukan kesalahan itu sifatnya manusia. Ubah pola pikir bahwa kesalahan yang telah terjadi adalah pembelajaran baru dalam kehidupan kita yang orang lain enggak mungkin mendapatkannya.

Berani bersosialisasi

5. Belajar Bersosialisasi

Ada rasa malu yang pada akhirnya membuat kita malu untuk berinteraksi dengan sosial. Hal ini, ya, masih berkaitan dengan kepercayaan diri yang kurang. Misal merasa enggak layak berada di suatu circle. Padahal, orang-orang di circle itu pun enggak masalah dengan keberadaan kita. Rasa malu sering kali diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Pikiran yang sifatnya ilusi, tetapi dampaknya amat nyata. 

Coba untuk mulai berani bersosialisasi, mulai percakapan baru dengan—paling enggak—satu atau dua orang. Kalau masih teras sulit, mulai dengan langkah kecil seperti menjadi pendengar yang anh baik untuk orang lain. Pelajari pula gimana cara berkomunikasi yang baik. Sebagai manusia tentu kita perlu bersosialisasi.

Kita juga bisa ikut aktif dalam komunitas ataupun kelas. Yang mana di dalamnya berisi orang-orang dengan minat serupa seperti kita. Hal ini akan memudahkan kita dalam berbaur, berdiskusi, dan meningkatkan kepercayaan diri.

NAH, begitulah kiat mengatasi rasa malu yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa lagi, di era digital seperti ini orang pemalu makin banyak karena perkembangan teknologi memudahkan orang pemalu untuk berekspresi dan berinteraksi di media sosial. Namun, kabar baiknya adalah kehadiran teknologi membuat orang pemalu lebih terbantu untuk bersosialisasi meski melalui media daring.

—

Referensi

https://hellosehat.com/mental/stres/mengatasi-rasa-malu/

https://diversushealth.org/mental-health-blog/12-tips-to-overcome-shyness/
“SEKOLAH yang bener, ya, biar jadi sarjana!” 

Seenggaknya hal itu jadi petuah pamungkas dari para orang tua terhadap anaknya. Paham, semua orang tua pasti menginginkan punya anak yang berprestasi, paling enggak bisa lulus pendidikan dengan gelar sarjana. Siapa sih yang enggak bangga liat anaknya diwisuda pakai toga dan menyandang gelar sarjana? Jangankan orang tua, anaknya sendiri yang susah payah menuntaskan skripsi pun merasa amat bangga sekaligus lega.

Orang tua rela melakukan apa pun supaya sang anak mengemban pendidikan tinggi-tinggi. Kalau punya gelar, seenggaknya lebih mudah dalam mendapatkan pekerjaan ketimbang enggak ada gelar sama sekali. Mungkin, ini yang dikhawatirkan banyak orang tua. Namun, enggak semua orang tua bisa begitu, ada segelintir orang tua yang memilih untuk enggak memperjuangkan itu karena memang terimpit tekanan dari berbagai keadaan. Anaknya pun harus memahami dan memakluminya.

Dan, kehidupan yang sesungguhnya pun dimulai.

Ketika Keadaan Mengharuskan Kamu untuk Enggak Kuliah

Enggak kuliah bisa apa
Aku juga bukan seseorang yang bergelar sarjana kok. Aku memahami, bahwa banyak hal yang mengharuskan kamu untuk enggak kuliah. Umumnya sih faktor ekonomi, tetapi kita enggak bisa mengabaikan faktor lainnya juga, ‘kan? Apa pun penyebabnya, kita sama-sama tau risiko dan konsekuensi apabila kita enggak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Siapa pun punya hak untuk menentukan arah hidupnya. Mau kuliah atau enggak, ya, enggak ada masalah. Selama kita tau apa-apa aja risiko dan konsekuensi yang akan dihadapi. Kalau kuliah, bagaimana caranya kita bisa memanfaatkan waktu, enggak cuma belajar di kelas, tetapi memanfaatkan peluang berkomunitas sebagai ajang pengembangan diri. Dan, kalau enggak kuliah? Tentu akan lebih susah lagi karena enggak ada wadah untuk belajsr secara intens dan mengembangkan diri dengan fasilitas seperti yang tersedia di kampus.

Lantas berarti kalau enggak kuliah enggak bisa belajar dan enggak bisa mengembangkan diri?

Ya, enggak gitu. Kamu bisa kok belajar di mana aja. Ingat, sekarang media sosial udah berkembang pesat. Gunakan waktu dan uang kamu untuk investasi jangka panjang. Investasi di sini maksudnya sumber daya manusia. Misalnya, kamu memanfaatkan waktu untuk belajar apa yang kamu suka melalui internet. Atau, kamu bisa menggunakan uang kamu untuk mengikuti kelas atau webinar. Pun, sekarang banyak kok kelas dan webinar gratisan yang bisa kamu dapatkan dengan mudah.

Tip belajsr di media sosial, daripada hanya sekadar scrolling, kamu bisa mengikuti akun-akun edukasi. Bamyak, lo, konten edukasi yang dikemas dengan hiburan. Jadi, kamu bisa belajar sambil main medsos .

Artinya, kita yang enggak melanjutkan kuliah ini, tetap harus punya kesadaran akan diri di masa depan. Enggak mungkin, ‘kan, kita hanya mengikuti alur kehidupan tanpa merancang dan mengusahakan cita-cita? Rasa-rasanya waktu terasa singkat dan sia-sia kalau enggak ada tujuan. Masing-masing pilihan hidup tetap punya struggle-nya kok. Yang kuliah punya struggle sendiri, yang enggak kuliah pun begitu. Pada akhirnya, tinggal bagaimana kita sebagai individu bisa survive untuk jadi apa yang kita mau, apa pun keadaannya.

Rasa Minder yang Melanda karena Enggak Kuliah

Minder karena enggak kuliah
Aku memahami betul betapa kamu punya rasa minder karena enggak kuliah. Kalau-kalau pada suatu waktu enggak sengaja bertemu dengan teman sekolah, betapa kamu cemas akan muncul pertanyaan terkait kehidupan kamu. Enggak sedikit mungkin yang memilih untuk enggak mengikuti reunian sekolah. Bahkan, enggak jarang kamu merasa minder dengan teman-teman lain yang udah lulus dan mendapatkan pekerjaan tetap.

Belum lagi stigma realitas tentang sulitnya mencari pekerjaan karena enggak punya gelar sarjana membuatmu makin cemas. Aku sering mendengar cerita teman-teman, baik yang udah kuliah ataupun enggak. Mereka punya struggle dalam mencari pekerjaan. Dari sini aku belajar bahwa enggak selamanya gelar sarjana memudahkan mencari pekerjaan. Pelajaran yang aku dapat adalah, bagaimana cara kita memanfaatkan privillege untuk bisa meraih apa yang kita mau. Bisa kuliah merupakan sebuah privillege dan kesempatan. Kuliah membantu kamu untuk mengenal potensi, mengembangkan relasi, belajar kerja sama melalui organisasi, dan belajar komunikasi yang baik. Namun, enggak semua dari mereka yang berkuliah dapat memanfaatkan hal itu. Apakah ini merupakan sebuah kesalahan? Enggak juga. Di sisi lain aku memahami, ada beberapa—bahkan banyak anak kuliahan mengalami salah jurusan entah karena paksaan orang tua yang enggak sesuai dengan keinginan atau memang karena hal lain. Aku memakluminya dan itu bukan hal mudah. Pada akhirnya, semua itu tentang pola pikir.

Kalau yang kuliah aja kadang masih susah mendapatkan pekerjaan. Bagaimana yang enggak kuliah sama sekali? Stigma ini yang mesti kita lalui bersama. Kita enggak punya privillege atau bisa kuliah. Namun, bukan berarti kita harus menyerah dengan keadaan. Jangan mudah menyerah dengan rasa minder, apa lagi hanya karena enggak kuliah. Mungkin beberapa dari kamu ada yang memilih langsung kerja setelah lulus SMA, enggak sedikit, kok, dari mereka yang mendapatkan pekerjaan setelah lulus SMA. Kalau masih belum ada pekerjaan dan enggak kuliah, banyak hal yang bisa kamu lakukan. Dibanding harus berjibaku dengan rasa minder. Satu hal aku sadari adalah betapa skill itu amat penting. Mungkin selama ini kamu hanya berfokus pada gelar sarjana yang kamu enggak punya. Padahal, kamu punya skill potensial. Potensi yang kalau kamu pelajari dam giat belajar, kamu punya peluang seperti mereka yang bergelar sarjana untuk mencapai karier.

Proses Pembelajaran: Bukan Sarjana, bukan Berarti Enggak Bisa Berkarya

proses pembelajaran
Aku sedang enggak membicarakan tentang kesuksesan. Standar sukses orang berbeda. Aku hanya ingin menjelaskan betapa proses kehidupan amat penting. Pola pikir kita terhadap keadaan kita sendiri juga amat penting. Begitu juga dengan cara pandang kita terhadap keadaan. Misal, kamu saat ini enggak kuliah karena keadaan dan kamu tetap mau produktif berkarya. Daripada minder dan . membandingkan diri dengan orang lain, mendingan fokus belajar dengan fasilitas seadanya, ‘kan? Jadi, waktumu enggak sia-sia. 

Tulisan ini untuk kamu yang merasa minder karena enggak kuliah dan minder dengan teman-teman lain bergelar sarjana. Setiap kesempatan punya peluang kok. Tinggal bagaimana kamu mau mengambil peluang itu atau enggak? Cita-cita itu bisa dikejar dari sisi mana aja. Enggak kuliah bukan berarti bodoh atau enggak berpendidikan. Memang, belajar di kampus akan lebih mudah. Namun, kadang kita juga harus realistis, kita enggak bisa membandingkan diri kita yang enggak kuliah dengan mereka yang kuliah. Ini enggak adil.

Ketika kamu sadar kalau keadaan enggak memungkinkan kamu untuk kuliah. Jangan menyalahkan keadaan, apa lagi mengatakan kalau mereka yang kuliah jalan hidupnya ‘enak’. Enggak begitu, nyatanya masing-masing orang punya struggle-nya sendiri. Mereka juga sampai berdarah-darah memperjuangkan gelar sarjana. Kamu pun berdarah-darah memperjuangkan cita-cita kamu. Semua orang punya masalah dalam setiap alur hidupnya. Bersyukur dan terima. 

Kemudian, banyak yang bisa kamu lakukan untuk tetap belajar dan produktif meskipun enggak kuliah. Salah satunya dengan mengikuti komunitas. Kamu harus tau lebih dulu, kamu sukanya apa? Suka nulis, ya, cari komunitas kepenulisan. Biasanya di masing-masing komunitas punya kelas kepenulisan sendiri. Jadi, dari komunitas tersebut kamu bisa menjaring relasi, belajar komunikasi melalui diskusi, dan belajar mengembangkan potensi menulis kamu. Apa pun bidangnya, kamu harus effort lebih untuk mencari produktivitas. Perlahan-lahan, kalau skill kamu udah mumpuni, kamu bisa mulai berkarya dan berkarier. Mulai dari freelancer, kamu pun bisa melamar pekerjaan di perusahaan mengandalkan sertifikat dari kelas dan webinar yang kamu ikuti dan pengalaman yang kamu punya.

Selama kita mau mencari jalan, akan selalu ada jalannya, ‘kan? Buang rasa minder kamu dan fokus dengan potensi yang kamu miliki. Seenggaknya itu yang mau aku bagikan ke kamu. Bahwa belajar bisa di mana aja. Tergantung kesadaran dan kemauan kita. Apa pun alur hidup yang terjadi, ketika kamu punya impian, banyak jalan untuk meraihnya. Yang bikin kamu sulit untuk meraihnya, ya, diri kamu sendiri. Sukses itu bukan hanya tentang apa dan berapa yang kamu hasilkan, melainkan seberapa jauh kamu mampu belajsr dari setiap proses yang dihadapi. Enggak akan ada hasil, kalau enggak ada proses. Semangat, ya! <3

AKU selama ini selalu menuduh diri sendiri apabila ada permasalahan. Masalah apa pun itu, aku selalu merasa berada di posisi yang salah. Entah itu karena memang aku salah atau karena aku merasa layak disalahkan. Meskipun kalau dipikir-pikir, aku enggak punya andil bersalah. Namun, aku selalu menelisik, mencari-cari sampai dalam, dan aku selalu menemukan alasan bahwa aku melakukan kesalahan. Pada akhirnya, aku terbiasa menyalahkan diri sendiri. Dan, taukah kamu, betapa itu rasanya capek?

Aku menyadari perilaku buruk ini bukan tanpa alasan, melainkan sering kali mendapati diri selalu dianggap enggak berguna dan enggak bisa diandalkan karena selalu melakukan kesalahan. Itu hanya cerita lama, tetapi aku enggak mengerti, kenapa sampai saat ini harus melulu menyalahkan diri sendiri? Akan tetapi, dari situ aku banyak belajar dalam menyikapi kesalahan orang lain. Aku lebih memilih memahami orang yang salah karena akan selalu ada pemicunya. Sebab, orang salah pun hak punya kesempatan. Dan, kadang yang membuat orang makin salah, ya, karena dia enggak pernah diberi kesempatan untuk berubah.

Ketika Kamu Selalu Menyalahkan Dirimu Sendiri

menyalahkan diri sendiri
Apakah kamu pernah dan sampai saat ini menyalahkan diri sendiri? Apa pun itu, tenang aja, aku memahaminya. Enggak akan ada asap kalau enggak ada api. Aku adalah orang yang percaya kalau karakter dan sikap seseorang salah satunya ditentukan oleh pengalaman di masa lalu. Begitu pula dengan tindakan atau perbuatan yang terjadi, baik secara sengaja maupun enggak disengaja.

Kalau disandingkan dengan makhluk lain, manusia adalah makhluk paling sempurna karena memiliki akal dan nafsu. Akan tetapi, bukan berarti manusia enggak sama sekali luput dari kesalahan. Manusia bukan tempatnya benar, melainkan manusia adalah makhluk pembelajar dari apa-apa yang terjadi pada dirinya dan orang lain di kehidupan. Termasuk kesalahan itu sendiri. Realitasnya, manusia akan melakukan kesalahan dalam hidupnya

Untukmu yang hari ini melakukan kesalahan. Untukmu yang saat ini masih dihantui kesalahan di masa lalu. Untukmu yang saat ini masih mengalahkan diri sendiri tanpa sebab. Dan, untukmu yang masih aja menuduh diri sendiri sebagai orang bersalah, padahal kamu enggak melakukan kesalahan sama sekali. 

Hidup itu terlalu luas, saking luasnya bukan berarti kamu bebas berekspektasi tentang kehidupan terhadap dirimu sendiri. Hidup itu kenyataan, sebuah realitas yang mesti disesuaikan dengan kemampuan kamu. Dalam setiap tindakan, kamu harus memahami, kadang kala perbuatan yang kita pikir akan bisa diterima, bisa jadi sesuatu yang salah. Enggak apa-apa, kamu manusia, kamu bisa melakukan kesalahan dan dari kesalahan itu kamu dapat pelajaran baru. 

Karena setiap kesalahan yang terjadi adalah sebuah pelajaran baru. Kesalahan yang enggak sia-sia adalah kesalahan yang dipelajari untuk diperbaiki. Kesalahan yang enggak sehat adalah melulu menyalahkan diri sendiri tanpa melakukan evaluasi.

Kurasa, udah saatnya kamu berhenti menyalahkan dirimu melulu. Kamu perlu ambil langkah untuk menyelesaikan kesalahan kamu dan ingat kesalahan itu sebagai pelajaran bukan sebagai ajang menyalahkan diri sendiri. Kalau terus-menerus menyalahkan diri sendiri, artinya kamu telah melakukan kekerasan secara emosional terhadap diri sendiri. Itulah kenapa menyalahkan diri sendiri rasanya selalu sakit.

Ini alasan kenapa kamu selalu menyalahkan diri sendiri. Kadang kita enggak bisa menyadari dan sulit mencari penyebab dari suatu perilaku. Jadi, apa aja alasannya?

Alasan menyalahkan diri sendiri

1. Ekspektasi dan Kemampuan Enggak Seimbang

Bisa jadi kamu adalah orang yang obsesif dan perfeksionis. Misal dalam suatu komunitas, kamu hadir sebagai pengurus sebuah divisi. Lantas, kamu punya keinginan atau ambisi untuk menjadikan kerja sama divisi selalu lancar dan tanpa adanya masalah. Itu baik, tetapi kamu pun harus menyadari bahwa masalah dalam kerja sama itu hal yang biasa.

Alhasil atas dasar keinginan tersebut, kamu sampai melakukan jobdesc yang bukan wewenang kamu. Kamu terlalu dan hanya terfokus pada penanggung jawab lain sampai-sampai kamu lupa tentang dunia nyata, bahkan mengabaikan jobdesc kamu. 

Ketika kamu berekspektasi Segalanya akan berjalan mulus tanpa kendala. Sementara, kemampuan enggak sampai ke sana. Pada akhirnya, kamu akan cenderung menyalahkan diri kamu sendiri. Kalau hal ini enggak segera dikendalikan, khawatir kamu akan stres, depresi, dan suka menangis tiba-tiba.

2. Trauma di Masa Lalu

Peristiwa yang terjadi di masa lalu kerap membawa jejak luka hingga dewasa. Jejaknya berupa selalu menyalahkan diri sendiri. Peristiwa yang akhirnya menjadi trauma tersendiri. Trauma di sini, bisa karena adanya tindakan asusila ataupun perundungan. Kejadian tersebut mau enggak mau bikin kamu tumbuh dengan kurang percaya diri, merasa minder, dan merasa rendah diri. Akibat-akibat itu yang bikin kamu merasa layak untuk disalahkan. Sejatinya, kamu pun berhak memerdekakan perasaan kamu dari apa-apa yang terjadi di masa lalu. 

3. Mengkritik Terlalu Sering

Mengkritik diri sendiri adalah ajang untuk kamu melakukan introspeksi diri. Ini adalah hal baik karena kamu akan selalu menghargai proses dan darinya kamu akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kalau hal itu dilakukan secara berlebihan tanpa ada ruang evaluasi, khawatir akan memicu mengalahkan diri sendiri. Artinya kamu perlu mengendalikan pola kritik yang dituju terhadap diri sendiri.

Mengakui Kesalahan tanpa Menyalahkan Diri Sendiri

Mengakui kesalahannya tanpa menyalahkan diri sendiri
Masing-masing orang punya cerita tentang kesalahan. Namanya cerita akan selalu ada penyelesaian dan evaluasi. Pun, setiap orang punya cara sendiri untuk menyelesaikan kesalahan dan mengevaluasi kesalahan. Ini bukan hal yang mudah karena pada tahap ini, kamu harus memvalidasi dan mengakui kesalahan kamu. Butuh jiwa besar dan rasa sakit, tetapi hal ini akan menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang bertanggung jawab.

Satu hal yang harus kamu sadari sadari, kesalahan itu adalah hal biasa. Semua orang melakukannya. Dan, kesalahan ada bagian dari proses kehidupan. Kurasa kehidupan enggak akan berputar tanpa adanya kesalahan. Kamu enggak perlu berkecil hati dan merasa menjadi manusia paling bodoh karena melakukan kesalahan.

Tau enggak, peningkatan value seseorang itu bisa juga diliat dari bagaimana cara dia menyikapi kesalahan. Dan, orang yang mau mengakui kesalahan adalah orang yang punya nilai diri lebih. Terserah, mau diakui dalam hati ataupun dikatakan langsung. Tentunya, pengakuan kesalahan ini harus dibarengi dengan upaya memperbaiki diri dan bertekad untuk enggak melakukan kesalahan yang sama.

Berani meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. Memang, kadang kita akan mendapatkan sanksi sosial dari kesalahan kita. Entah itu diomongin, entah itu dimarahin, entah itu ada orang lain yang merasa kecewa, entah itu dijauhi. Aku tau ini rasanya enggak enak, tetapi life must go on, people come and go. Orang lain boleh menjauhi, tetapi diri kamu jangan. 

Saat kamu melakukan kesalahan, sebisa mungkin sadari dan segera langsung bertindak. Jadikan kesalahan sebagai langkah awal mempelajari pelajaran hidup yang baru. Jangan jadikan kesalahan sebagai langkah awal menyakiti diri sendiri. Jangan jadikan kesalahan sebagai pintu gerbang untuk mendatangkan gangguan mental.

Aku selalu amaze dengan orang-orang yang berani mengakui kesalahan dan mau belajar dari kesalahan. Ketimbang orang-orang membicarakan kesalahan orang lain dengan niat menjatuhkan. 

—

Referensi: 

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/intimacy-path-toward-spirituality/202212/the-courage-acknowledge-our-mistakes-without-self

https://www.alodokter.com/alasan-di-balik-sering-menyalahkan-diri-sendiri-dan-cara-mengatasinya

https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/selalu-menyalahkan-diri-sendiri-apakah-tanda-gangguan-mental

https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/menyalahkan-diri-sendiri/

enggan pulang
RUMAH bukan hanya sekadar kebutuhan pokok. Benda besar yang memiliki atap sebagai tempat berteduh itu, lambat laun menjadi satu-satunya alasan kita selalu ingin pulang saat bepergian. Meskipun ketika matahari terbit, berjibaku dengan dunia di luar rumah, tetapi kaki akan selalu tau ke mana dirinya harus kembali pulang. Enggak ada tempat terbaik, selain menemukan diri bisa duduk di ruang tengah bersama keluarga. Enggak ada aroma paling menggugah, selain masakan ibu di dapur. Enggak ada tempat paling aman, selain berada di samping ayah yang sigap melindungi. Enggak ada tempat paling nyaman, selain bercengkrama ria dengan kakak dan adik.

Namun, enggak semua orang punya tempat nyaman, punya tempat aman, punya aroma terenak, punya tempat terbaik, dan punya tempat kembali. Ada yang kala matahari terbit pergi dengan wajah sendu, kemudian pulang dengan wajah sayu di bawah terbenamnya matahari. Kaki tau arah pulang, tetapi hati dan pikiran memilih menjauh, kadang-kadang enggak pulang sama sekali. Untuk apa pulang, enggak ada yang mencari, enggak ada yang peduli, begitu pikirnya. Untuk apa pulang, kalau yang dihadapi lagi-lagi keributan, begitu katanya. Keluarga yang utuh hanyalah dongeng bagi orang-orang dengan keluarga runtuh. 

Ketika Enggan untuk Pulang, Jangan Biarkan Dirimu Hilang

Broken home? Kadang-kadang bingung semdiri, sebetulnya broken home itu seperti apa? Suasana rumah yang berantakan itu gimana? Perpecahan dalam rumah itu bentuknya gimana? Apakah broken home akan selalu berantakan? Apakah ada waktu-waktu menyenangkan bagi broken home?

Broken home adalah keluarga yang enggak utuh. Enggak utuhnya sebuah keluarga, bisa didasari  berbagai bentuk faktor. Perceraian, kematian, kesalahpahaman, egoisme, perselingkuhan, kekerasan, tuntutan, ketidakpedulian, dll. Konflik yang dipicu oleh orang tua, tanpa adanya penyelesaian, berisiko menjadikan keluarga runtuh. Berdampak pada kondisi psikologis anak, perkembangan pribadi anak, dan pola pikir juga cara bertindak anak. Orang tua yang enggak memahami dan menyadari dampak broken home, mereka kurang berhasil membangun rumah tangganya sendiri.

Kadang-kadang orang tua egois, hanya fokus pada masalah mereka. Terlalu terbawa dengan suasana hati berantakan, tanpa dikontrol sehingga anak menjadi imbasnya. Anak enggak diurusin, anak dibiarkan, anak dijadikan sasaran. Di sisi lain, anak enggak bisa berbuat apa-apa. Anak kecil tau apa urusan rumah tangga? Begitu kata orang tua. Orang tua lama-lama depresi, anak ikut depresi. Hidup runyam, lantas apakah anak salah kalau mencari kebahagiaan di luar rumah dan enggak memilih untuk pulang?

broken home

Untukmu yang Pernah Diremehkan Keluarga

Ketika enggan untuk pulang karena melulu diremehkan dan direndahkan akan apa yang kamu lakukan. Tatkala orang terdekat harusnya menjadi support system terbaik, justru jadi orang-orang yang menjatuhkan kamu. Menyerang mental dan membuatmu sulit untuk percaya diri. Kalau orang terdekat aja menganggap remeh, apa lagi orang lain? Akhirnya, perlahan-lahan rasa enggak percaya diri mulai berkembang dan kamu tumbuh jadi seorang pemalu.

Aku tau ini enggak mudah, tetapi harus diingat, kalau kamu enggak boleh meremehkan diri kamu sendiri. Kamu enggak boleh menganggap diri kamu rendah. Rendahnya seseorang bukan diukur dari penilaian orang lain—meskipun itu keluarga sendiri. Pelan-pelan, ayo bangun lagi kepercayaan diri kamu. Setiap orang berhak dan punya kesempatan untuk menunjukkan kualitas diri. Begitu pun dengan kamu.

Untukmu yang Pernah Dianggap Enggak Berguna

Ketika enggan untuk pulang karena melulu dianggap enggak berguna. Selalu dianggap anak yang enggak bisa apa-apa. Dasar, anak bisanya bikin susah aja, apa sih bisanya? Kalimat yang selalu didengar seperti kaset rusak. Entah hal ini membuat kamu tumbuh menjadi sosok yang selalu merasa bersalah atau jadi sosok yang selalu ingin membuktikan kepada dunia, bahwa kamu berguna. Enggak ada salahnya mencari aktualisasi, tetapi segalanya butuh batasan, ‘kan? Enggak semua hal harus kamu lahap, kamu punya rasa capek.

Fokus sama apa yang bisa kamu kerjakan dan sesuai dengan jobdesc. Pekerjaan orang lain bukan tanggung jawab kamu. Tanggung jawa kamu adalah mengatur supaya enggak melewati batas. Jangan lagi merasa bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan pekerjaan kamu, nanti kamu dimanfaatkan orang lain yang enggak bertanggung jawab. Udah, ya? Kamu sangat berguna untuk diri kamu dan bahkan orang lain, tetapi dengan cara kamu yang benar dan sehat.

Untukmu yang Selalu Disalahkan

Ketika enggan untuk pulang karena melulu disalahkan. Enggak melakukan kesalahan aja disalahin, gimana kalau ngelakuin kesalahan? Kamu selalu merasa kesal, marah, dan sedih. Selalu merasa takut untuk melakukan apa pun karena tau, pasti akan disalahkan. Lama-lama, kamu akan tumbuh jadi pribadi yang enggak enakan. Parahnya, kamu akan selalu merasa bersalah terhadap kesalahan orang lain. Kamu selalu menuduh diri sendiri salah atas suatu permasalahan.

Emangnya, kamu enggak capek? Kamu enggak capek terus-menerus menyalahkan diri sendiri? Lantas, apa bedanya kamu dengan orang-orang yang selalu menyalahkan kamu? Manusia memang enggak luput dari kesalahan. Namun, kamu enggak bertanggung jawab atas kesalahan orang lain. Enggak semua masalah itu karena kamu, kadang kamu harus terusik lebih dulu. Dan, berhenti menyiksa diri kamu dengan selalu mengiyakan orang lain karena perasaan enggak enak.

Untukmu yang Mengalami Orang Ketiga di Keluarga

Ketika enggan untuk pulang karena mendapati salah satu orang tuamu mendua. Keributan menjadi musik rock yang paling kamu benci. Sumpah serapah dan makian adalah improvisasi paling menakutkan. Lemparan barang-barang rumah tangga menjadi melodi instrumen paling menyeramkan. Meskipun telah menyumpal telinga dengan musik relaksasi paling besar, tetapi suara orkestra di luar kamar masih menyiksa hati kamu. Aku tau ini enggak nyaman, membuatmu selalu menangis di balik selimut. Kamu selalu tertidur karena lelah menangis dan memikirkan nasib keluarga kamu. Kamu selalu terbangun dengan satu impian, berharap apa yang terjadi sebelumnya hanyalah mimpi. 

Hadirnya orang ketiga dalam keluargamu. Berhasil memukul hatimu sampai berdarah. Sesak sekali. Kamu yang mengira orang tua baik-baik aja dan saling mencintai selamanya. Kehadiran orang ketiga membuatmu patah hati, membuatmu takut jatuh cinta karena orang tuamu memperlihatkan perselingkuhan. Namun, percayalah bahwa kesetiaan merupakan cinta sejati. 

Untukmu yang Orang Tuanya Memilih Berpisah

Ketika enggan untuk pulang karena ibu selalu berteriak ingin pisah dengan ayahmu. Entah karena orang ketiga ataupun konflik lain. Aku tau betapa hancurnya hatimu, membayangkan orang tuamu harus berpisah. Membayangkan ketika kamu diminta hanya ikut salah satu dari mereka. Membayangkan bahwa kamu akan kehilangan satu figur orang tua, entah ayah, entah ibu. Membayangkan pun berhasil membuatmu hancur. Namun, lagi-lagi, sebagai anak, kamu bisa apa? Kadang kala mempertahan mereka hanya membuat rumah tangga jadi makin berantakan. Kasihan mereka, harus menanggung tekanan batin.

Lantas bagaimana dengan kamu? Pada akhirnya, seorang anak mesti menerima dan merelakan apa pun keputusan orang tua. Ke mana kamu harus pergi, kamu hanya perlu berlapang dada. Hidup memang selalu seperti itu, sering kali enggak sesuai dengan apa yang kamu ekspektasikan. Meskipun punya keinginan mereka bersatu selamanya. Namun, mereka juga berpikir bahwa ini yang terbaik untuk kamu, anak mereka.

jalan pulang
KETIKA enggan untuk pulang, mungkin suasana rumah akan membuat kamu makin tertekan. Mungkin enggak ada orang rumah yang menunggumu. Namun, diri kamu adalah alasan untuk kamu pulang. Diri kamu adalah keluarga yang akan selalu menantimu pulang.

Bertahanlah. Mungkin ini akan membuatmu merasa lelah. Namun, suatu saat kamu akan menyadari bahwa apa yang terjadi di masa lalu adalah pembelajaran berharga dalam kehidupan. Terserah orang mau bilang apa tentang keluarga kamu yang broken home. Apa pun stigma orang tentang keluarga broken home. Kamu bisa berdiri dan kuat sampai saat ini, itu hebat. Ketika udah berkeluarga nanti, kamu akan berupaya menjaga keluarga kamu sebaik mungkin.

Kita memang enggak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga yang seperti apa. Kita enggak pernah tau, bagaiamana keluarga kita nanti. Kita hanya tau, bertahan dalam keluarga. Jika memang harus pergi, kita sadar bahwa itu enggak akan menyelesaikan masalah. Pada akhirnya, kita harus belajar menerima kenyataan. Dan, ketika enggan untuk pulang, enggak apa-apa, tetapi jangan sampai hilang dari pulang. Semakin dewasa, kita akan semakin sadar, bahwa keluarga yang enggak baik-baik aja merupakan pelajaran paling berharga.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Nikmati Hari-Harimu bersama Layanan GoJek
  • Fenomena Overthinking: Hidup jadi Terombang-Ambing
  • 5 Dampak Pelecehan Seksual terhadap Psikis!
  • Seperti Air yang Memantul tanpa Kembali ke Tanah [Prosa Fiksi]
  • #RIPTwitter: Apa Iya Twitter akan Ditutup?
  • Dari Kuis hingga Werewolf, Ini 5 Permainan di Telegram yang Harus Kamu Coba!
  • Untuk Para Peluka yang Butuh Pelukan
  • Siklus Hidup Potensi
  • Sandiwara di Kala Matahari Singgah
  • Kehilangan, Bagian dari Kehidupan

Categories

  • Artikel 18
  • Cerpen 17
  • Diary Blog 15
  • EMOTIONAL AREA 6
  • fiks 1
  • Fiksi 19
  • Islam Matters 7
  • Karya Sastra 12
  • Life Matters 37
  • Lima Hari bersama Hantu 6
  • Love Matters 11
  • MENTAL AREA 34
  • Nonfiksi 33
  • One Day One Post 68
  • PHYSICAL AREA 7
  • Pribadi 9
  • Puisi 6
  • REVIEW AREA 4
  • SOCIAL AREA 22
  • SPIRITUAL AREA 2
  • Ulasan 18
  • URNA 3
  • What I Think 12

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Popular Posts

  • Fenomena Overthinking: Hidup jadi Terombang-Ambing
  • 5 Dampak Pelecehan Seksual terhadap Psikis!
  • Nikmati Hari-Harimu bersama Layanan GoJek
  • Dari Kuis hingga Werewolf, Ini 5 Permainan di Telegram yang Harus Kamu Coba!

Labels

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template